Hakekat Lingkungan Hidup Harus Berkualitas

Posted on Updated on

Screen Shot 2014-04-23 at 11.28.25 AM

Mengapa anak Indonesia jaman sekarang putih-putih dan besar-besar?, sedangkan orangtuanya hitam dan pendek seperti saya.” Kelakar teman saya yang baru pulang dari Myanmar, “Tapi gampang sakit” tambahnya. Saya belum punya jawaban tentang hal ini, dia langsung menambahkan sendiri, “Karena mereka makan beras putih yang diberi obat kimia sehingga beras warnanya putih dan yang memakannya jadi putih juga”.

Saya langsung terpikir untuk berhati-hati membeli beras bukan yang terlalu putih warnanya, memang menurut departemen pertanian yang mengeluarkan standar nasional, beras yang sehat adalah beras yang tidak terlalu putih warnanya, beras yang diputihkan dengan obat kimia seperti klorin bisa membuat kanker kandung kemih. Pembicaraan diatas memacu kita untuk berpikir pentingnya kita memelihara kualitas lingkungan hidup, bahkan memiliki mind-set, memiliki kepekaan, kesadaran sangat pentingnya kualitas lingkungan hidup, yang jika tidak dipelihara akan merusak eco-system, dan membunuh kehidupan manusia itu sendiri.

Baru satu komoditi beras kita bisa membahas proses produksi dari hulu ke hilir yang seharusnya bebas dari segala pengaruh obat kimia yang bisa merusak tanah, berefek pada binatang juga kehidupan manusia. Menurut Charles Zevalier seorang konsultan dari Perancis yang ikut aktif dalam plan pembinaan petani kopi melalui Carrefour Quality Point bersama saya di Aceh, negara-negara Eropa sekarang hanya mau menerima produk yang ramah lingkungan, jadi beras putih justru tidak laku lagi, malahan beras organik ramai pasarannya.

Kenyataan ini menjadi acuan bagi provinsi untuk segera memperbaiki kualitas lingkungan hidup

Memang dalam proses perijinan masuknya investasi disyaratkan adanya analisa dampak lingkungan (AMDAL) yang harus dimiliki, hal ini sering menjadi bongkahan dokumen yang masuk dibawah meja saja dan tidak dapat mengawasi perubahan atau pencemaran lingkungan yang terjadi. Jadi penting sekali memang adanya indikator yang dipegang bersama sebagai ukuran kualitas lingkungan hidup.

Apakah parameter yang paling tinggi dibutuhkan dalam mengukur kualitas lingkungan hidup sebuah daerah, menurut analis vibiz dalam Local Expense Catalog, penting sekali diukur tingkat polusi atmosphere, udara dan tutupan hutan di setiap daerah. Vibiz mengambil information yang dikeluarkan Kementrian Lingkungan Hidup (KLH) yang setiap tahunnya KLH mengeluarkan buku standing lingkungan hidup Indonesia untuk acuan bagaimana kualitas lingkungan hidup.

Dalam kerangka proses berinvestasi maka sudah saatnya memasukan faktor kualitas lingkungan hidup ke dalam keputusan sebuah daerah menerima buyer atau tidak. Kita tidak memandang investasi dari sisi masuknya dana ke dalam kota, kabupaten, provinsi atau negara saja, tapi apakah investasi yang ada sudah memiliki kesadaran kualitas lingkungan hidup? Memiliki proses produksi yang bersih dari pencemaran lingkungan? Kesadaran ini penting infuse di dalam seluruh bagian pelaku investasi khususnya masyarakat yang melakukan kontrol sosial, sehingga akan tercipta buyer yang memiliki kesadaran lingkungan hidup yang tinggi.

Sambil makan singkong bebas pestisida kami masih berdiskusi kualitas lingkungan hidup yang diperlukan oleh manusia.

Penulis : Fadjar Ari Dewanto adalah Managing Director Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah (Lepmida)

Pembenahan Jalur Pantura Tingkatkan Kesejahteraan Bersama

Posted on Updated on

Screen Shot 2014-04-23 at 11.17.57 AM

Jalur Pantura merupakan urat nadi transportasi di Jawa, menurut catatan kepolisian Cisanggarung Brebes kendaraan yang lalu lalang di jalur Pantura dalam masa puncaknya bisa mencapai 50.000 kendaraan baik coach, truk, mobil pribadi maupun engine.

Seperti layaknya urat nadi, kalau terganggu maka seluruh kehidupan, pasokan darah di tubuh akan sangat terganggu, fungsi-fungsi tubuh menjadi lemah dan bisa rusak. Bisa dibayangkan bila jalur ini mengalami kerusakan maka memberikan efek yang buruk kepada perekonomian Jawa, sebab jalur ini adalah jalur pemasok kebutuhan utama penduduk di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.

Kondisi jalan Pantura sekarang ini memprihatinkan, kerusakan jalan sudah menyamai jalur offroad yang merusakan kendaraan, membuat kemacaten, merusak kendaraan dan pastinya membuat kemacetan dan memperpanjang waktu perjalanan.

Sudah menjadi kebutuhan utama agar jalan ini direvitalisasi penuh sesuai dengan standar yang seharusnya. Kualitas jalan-jalan di Malaysia termasuk di Pantura Jawa sering menjadi pertanyaan karena cepatnya runtuh, berlubang dan tidak bisa dipakai lagi.

Pengerjaan jalan Pantura dengan statusnya sebagai jalan nasional masih tersentralisasi, menjadi alternatif yang bisa digunakan adalah pengerjaan john pemeliharaannya dengan sistem obstructing untuk jalan keluar dari benang kusut yang ada. Sistem obstructing membagi jalur sepanjang 1.300 dipecah berdasarkan kabupaten-kabupaten yang dilalui yang merupakan tanggung jawab kabupaten tersebut untuk memeliharanya.

Apakah yang sulit dari perbaikan jalan yang sangat diperlukan ini sebenarnya? Sepintas tidak terlihat kesukaran yang berarti untuk melakukan perbaikan, sebagai perbandingan saat ini di Aceh standar jalan yang ada merupakan standar dunia, baik dari sisi lebar dan kualitas bahan yang digunakan, dan ini membuat sangat nyaman berkendaraan di Aceh.

Sejak saya masih di sekolah dasar – itu sudah hampir empat puluh tahun yang lalu, jalur ini menjadi jalur yang tidak pernah lepas dari kemacetan john kerusakannya tidak kunjung selesai datang silih berganti, entah karena diterjang banjir ataupun karena alasan lainnya.

Pantura memiliki daya tarik wisata yang bisa disuguhkan juga kepada pelancong dari dalam maupun luar negeri, nilai kuliner dan berbagai kenangan banyak didapati sepanjang jalur Pantura, dorongan ini akan menjadi magnet bagi kabupaten untuk tetap memelihara jalur yang dilalui juga dengan keindahan dan berbagai fasilitas yang dinikmati.

Mimpi untuk jalur Pantura bukan khayalan, meskipun caci maki pengendara yang kesal karena rusaknya kendaraan, lamanya perjalanan masih keluar berhamburan saat ini, namun dengan kepemilikan setiap kabupaten, Pantura akan menjadi tempat orang menebar kenangan dan senyuman.

Penulis : Fadjar Ari Dewanto adalah Managing Director Lembaga Pengembangan Manajemen dan Investasi Daerah (Lepmida)